Majalah Jadul Misteri: Mengungkap Tabir Mistik di Indonesia

Majalah Misteri adalah salah satu majalah legendaris di Indonesia yang bertahan selama lebih dari 40 tahun. Majalah ini menghadirkan berbagai kisah dan liputan tentang fenomena supranatural, paranormal, dan mistik yang ada di tanah air. Bagi Anda yang suka dengan hal-hal yang berbau gaib dan seram, pasti tidak asing dengan majalah ini. Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah dan kisah di balik majalah jadul Misteri?


Sumber Media: Carousell


Sejarah Majalah Misteri

Majalah Misteri pertama kali terbit pada tahun 1974, atas prakarsa Ibrahim Sinik, seorang tokoh pers nasional yang juga mendirikan grup media Medan Pos2. Majalah ini bernaung di bawah payung grup media tersebut, bersama dengan beberapa media lain seperti Medan Pos, Detektip Spionase, Sinar Reformasi, dan sebagainya.


Majalah Misteri memiliki segmen pembaca yang loyal, terutama dari kalangan menengah ke bawah yang mencari informasi tentang dunia gaib dan mistik3. Majalah ini juga menjadi sumber referensi bagi mereka yang ingin mencari dukun sakti, paranormal yang bagus, atau pengobatan alternatif4. Tak jarang, majalah ini memuat iklan-iklan paranormal yang menawarkan berbagai macam jasa, mulai dari santet, pelet, penglaris, hingga ilmu kebal.


Majalah Misteri sempat mengalami masa jaya pada tahun 2011 hingga 2015. Oplahnya mencapai 280 ribu eksemplar per bulan untuk majalah yang terbit dua minggu sekali3. Namun, seiring dengan perkembangan media online dan media sosial, majalah ini mulai mengalami penurunan. Oplahnya merosot hingga sekitar 40 ribu eksemplar per terbit pada tahun 20174. Pada awal tahun 2018, majalah Misteri akhirnya menghentikan penerbitannya.


Kisah Mistis di Balik Majalah Misteri

Menggarap majalah yang berisi tentang hal-hal supranatural tentu tidak mudah. Para wartawan dan redaktur majalah Misteri harus sering mendatangi tempat-tempat angker, makam-makam keramat, atau bertemu dengan tokoh-tokoh spiritual untuk mendapatkan liputan-liputan menarik. Tak jarang, mereka juga mengalami pengalaman-pengalaman mistis yang tak terlupakan.


Salah satu redaktur pelaksana terakhir di majalah Misteri adalah Yon Bayu Wahyono. Ia bergabung dengan majalah ini pada tahun 2010 hingga 2017. Sebelumnya, ia adalah seorang wartawan politik yang tidak tahu banyak tentang dunia gaib dan mistik4. Ia harus belajar banyak dari tokoh-tokoh spiritual untuk memahami hal-hal gaib yang ia liput.


Yon mengaku pernah tidur di tempat-tempat keramat yang katanya angker, seperti Gunung Sanggabuana (Jawa Barat), Gunung Srandil (Jawa Tengah), hingga Gunung Kelam (Kalimantan Barat)4. Ia juga pernah mendatangi makam Nyi Roro Kidul, serta makam-makam lain yang dianggap keramat.


Pengalaman mistis paling hebat yang dialami Yon adalah ketika ia mencari keberadaan Suku Bunian di Jambi dan berkunjung ke Gunung Srandil. Ia merasa benar-benar dibawa ke alam lain dan melihat berbagai hal aneh yang tidak bisa dijelaskan secara logis.


Selain Yon, ada juga Lilik Sofyan Achmad, seorang wakil pemimpin redaksi majalah Misteri yang sudah bekerja di sana sejak tahun 1990-an. Ia juga memiliki banyak kisah mistis yang dialaminya selama bekerja di majalah ini. Salah satunya adalah ketika ia harus menghadapi persaingan antara para dukun yang saling menyerang dengan ilmu hitam.


Lilik mengatakan bahwa majalah Misteri sering menjadi medan pertempuran antara para dukun yang ingin menunjukkan kehebatan mereka. Mereka sering mengirim santet, teluh, atau guna-guna ke kantor redaksi majalah Misteri untuk mengganggu atau membunuh lawan-lawannya4. Lilik sendiri pernah menjadi korban dari serangan-serangan tersebut. Ia mengaku pernah dirasuki, kesurupan, hingga muntah darah karena terkena santet.


Majalah Misteri adalah salah satu majalah jadul yang memiliki tempat tersendiri di hati para penggemar dunia gaib dan mistik di Indonesia. Majalah ini telah mengungkap berbagai tabir mistik yang ada di tanah air selama lebih dari 40 tahun. Namun, majalah ini juga memiliki kisah-kisah mistis yang dialami oleh para pekerjanya sendiri. Majalah Misteri mungkin sudah tidak terbit lagi, tetapi kenangannya akan tetap hidup di benak para pembacanya.

0 Comments